Perlukah Revisi Nominal UMR Guna Meningkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan Pegawai?

 Rifqa Zahratunnisa

170110200057

-

Wartana (2011) mengatakan bahwa sumber daya manusia memiliki peran penting dalam mencapai tujuan organisasi karena individu yang ada dianggap sebagai ujung tombak bagi setiap organisasi. Untuk mencapai tujuan dan mendapatkan keuntungan, organisasi tersebut harus meningkatkan produktivitas perusahaannya dengan cara meningkatkan produktivitas para tenaga kerjanya.

Dapat saya simpulkan bahwa terdapat hubungan erat antara jumlah upah dengan produktivitas kerja pegawai. Tingkat upah adalah faktor yang memengaruhi produktivitas tenaga kerja. Begitupun sebaliknya, produktivitas tenaga kerja merupakan faktor yang memengaruhi tingkat upah yang diberikan.  Oleh sebab itu, meningkatkan upah tenaga kerja dapat menjadi salah satu solusi bagi para pegawai untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja merek karena meningkatnya upah dapat dijadikan dorongan dan motivasi dalam bekerja. 

Apabila tenaga kerja mendapatkan upah yang tinggi, maka secara tidak langsung mereka akan lebih giat dan semangat dalam menjalankan pekerjaanya. Hal tesebut disebabkan oleh uang sebagai hal utama bagi tenaga kerja, di mana setiap individu yang melakukan suatu pekerjaan pasti mengharapkan imbalan dari pekerjaan tersebut. Pada konsep ini, imbalan yang dimaksud berupa upah/gaji yang akhirnya akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebaliknya, jika upah yang diberikan kepada tenaga kerja tidak sesuai dengan pengeluaran dan kebutuhannya, maka cukup sulit bagi mereka untuk mencapai tujuan pekerjaan yang ada di organisasi atau perusahaan tersebut. Hal ini disebabkan oleh ketidaksesuaian upah yang mereka terima sehingga mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Lebih tepatnya uang adalah hal utama yang dibutuhkan oleh setiap manusia untuk dapat bertahan hidup. Lalu bagaimana dengan tenaga kerja yang upahnya masih berada pada standar UMR? Haruskah pemerintah meningkatkan UMR di tiap daerah guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerjanya?

UMR (Upah Minimum Regional) adalah standar upah minimal bagi para tenaga kerja di suatu daerah yang digunakan oleh pelaku industri sebagai pedoman dalam memberikan upah karyawan di perusahaannya. Namun, apabila mengacu kepada Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 226 Tahun 2000, terdapat beberapa revisi mengenai pasal-pasal di dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 1 Tahun 1999, yaitu perubahan istilah UMR menjadi UMP dan UMKMeskipun sebutan UMR sudah tidak digunakan lagi dalam regulasi upah minimun, istilah UMR tetap lebih sering digunakan daripada UMP dan UMK.

Meningkatkan upah tenaga kerjanya tidak semata-mata ditingkatkan begitu saja. Perlu tercipta simbosis mutualisme antara upah dan produktivitas kerja, di mana upah yang diberikan oleh pelaku industri akan meningkat jika adanya peningkatan produktivitas dari tenaga kerjanya. Oleh sebab itu, jika ingin meningkatkan upah yang diberikan oleh suatu perusahaan, pegawai tersebut harus bekerja secara produktif. 

Lalu, apakah perlu dilakukan revisi nomial UMR untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerjanya? Menurut pemahaman saya mengenai pengertian UMR, upah minimal yang ditetapkan oleh pemerintah ini mengacu kepada tingkat kebutuhan ekonomi di wilayah tersebut. Apabila tingkat ekonomi di wilayah tersebut mengalami kenaikan, nominal UMR pun akan meningkat. Karena upah tersebut akan digunakan sebagai alat pemenuh kebutuhan hidup tenaga kerja. Meningkatnya perekonomian di suatu wilayah disebabkan oleh meningkatnya pengeluaran individu di wilayah tersebut. Oleh sebab itu, dalam menetapkan UMR baru di setiap awal tahun, pemerintah akan melakukan riset harga barang seperti sembako, sebagai acuan baru dalam menetapkan UMR.

Nominal UMR akan meningkat apabila harga kebutuhan ekonomi di wilayah tersebut juga meningkat. Peningkatan harga ini terjadi akibat adanya inflasi yang disebabkan oleh naiknya permintaan pasar dan meningkatnya jumlah uang beredar. Apabila individu di suatu wilayah ingin meningkatkan pengeluarannya, ia harus memiliki uang yang lebih banyak sehingga jumlah uang beredar akan semakin tinggi, di mana uang tersebut diterima melalui upah hasil kerja. Agar individu tersebut mendapatkan upah yang tinggi, mereka harus meningkatkan produktivitas kerjanya.

Melalui penjelasan yang telah saya berikan, dapat disimpulkan bahwa jika pemerintah ingin meningkatkan nominal UMR, sebelumnya perlu ada tindakan positif dari tenaga kerja berupa peningkatan produktivitas kerja. Dengan meningkatnya produktivitas tenaga kerja, pegawai akan mendapat upah yang lebih tinggi sebagai penghargaan atas pencapaian kerja yang telah dilakukan. Jika upah meningkat, maka jumlah uang beredar akan meningkat. Jika jumlah uang beredar meningkat, harga bahan pokok untuk memenuhi kebutuhan akan meningkat. Apabila harga barang meningkat, UMR pada tahun berikutnya akan meningkat karena dalam menentukan nominal UMR, pemerintah melakukan riset melaui harga barang.

Akan tetapi,meningkatnya UMR tidak mendatangkan dampak positif saja, dampak negatif juga akan datang jika upah minimum mengalami peningkatan. Beberapa dampak positif yang akan hadir dari kenaikan nominal UMR adalah sebagai berikut:

1)      Meningkatkan daya beli masyarakat sehingga dapat memberikann keuntungan bagi pengusaha dan negara karena perekonomian nasional akan ikut meningkat

2)      Menyejahterakan para tenaga kerja perusahaan karena mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

3)      Memperkecil kesenjangan antar masyarakat memiliki upah rendah dan yang memiliki upah tinggi.

Sedangkan beberapa dampak negatif yang akan timbul di antaranya adalah:

1)      Merugikan para pemilik usaha karena dengan meningkatnya UMR secara tidak langsung akan meningkatkan biaya produksinya juga. Apabila biaya produksi meningkat, maka kemungkinan starategi yang akan dilakukan adalah menekan biaya produksi atau mengurangi kualitas barang.

2)      Memberatkan para pengusaha karena mereka harus meningkatkan omset agar tidak terjadi pengurangan pegawai ataupun tumpang tindih jabatan.

3)      Meningkatnya harga barang pemenuh kehidupan.

4)      Meningkatkan pajak penghasilan

5)      Jika masyarakat tahu upah minimum meningkan, maka akan banyak masyarakat yang lebih memilih untunk langsung bekerja. Padahal, perusahaan membutuhkan pegawai yang ahli di bidangnya masing-masing. Apabila masyarakat tidak melanjutkan Pendidikan, mereka tidak akan memenuhi kriteria sebagai calon pegawai yang baik sehinggan angka pengangguran akan meningkat.

6)      Meningkatkan jam kerja pegawai.

7)      Menurunnya produsen yang ingin berinvestasi karena upah “minimum” tetapi nominalnya “tinggi”.

Jika melihat kepada dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dari peningkatan UMR, pemerintah perlu mempertimbangkan kembali apakah mereka perlu meningkatkan nominal UMR di wilayah tersebut. Karena meningkatnya nominal UMR semata-mata hanya kenyamanan sosial para tenaga kerja, bukan meningkatkan kesejahteraannya. Hal tersebut dapat dilihat dari rumus bahwa meningkatnya UMR berarti meningkatkan daya beli masyarakat sehingga upah yang tinggi akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tinggi pula. Akan meningkatkan kesejahteraan pegawai apabila upah minimum meningkat, tetapi pengeluarannya menetap.

SUMBER

Astusti, E. A. (2017, Januari). Pengaruh Upah dan Insentif Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 2, 33-43.

Chandra, S. R. (2013). Pengaruh Upah Kerja Terhadap Produktivitas Karyawan. Jurnal Equilibriumn, 1, 154-165.

Latif, A., & Wilanda, W. (2019). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja Karyawan Pada Biro Penggadaan Jasa PT Semen Padang Tbk. Jurnal Sains dan Teknologi.

Merdekawaty, R., Ispriyanti, D., & Sugito. (2016). Analisis Faktor Yang Memengaruhi Upah Minimum Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Menggunnakan Model SAR. Jurnal Gaussian, 5, 525-534.

Ukkas, I. (2017, Oktober). Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja Industri Kecil Kota Palopo. Jurnal of Islamic Education Management, 2, 187-198.

 


Komentar

Postingan Populer